by

Tafsir Lafadz AULIYA’ Perspektif Tafsir At-Thabari

-Keislaman-501 views

SALAH PAHAM, PAHAM SALAH DAN TIDAK PAHAM-PAHAM

Oleh: Kang Hari

Beberapa bulan yang lalu, tepatnya sebelum bulan Ramadhan tahun ini, saya teringat pernah menguji skripsi salah seorang mahasiswa yang mengkaji tentang makna kata أولياء dalam Al-Qur`an dalam perspektif Tafsir Jãmi`ul Bayãn fĭ Ta`wĭl Āyi al- Qur`an atau yang lebih dikenal dengan Tafsir at-Thabãri karya Abu Ja`far at-Thabary (224-310H).

Kajian dalam penelitian tersebut hanya difokuskan pada kata أولياء dalam bentuk jamak saja, yang jumlahnya dalam al-Qur`an diulang sebanyak 42 kali.

Penelitian ini sebenarnya cukup menarik, dan memiliki urgensi yang kuat untuk diteliti. Mengingat dalam beberapa tahun belakangan ini, politik identitas di tanah air kita kian menguat, dan salah satu isu yang banyak diperbincangkan adalah makna kata awliya` dalam al-Qur`an itu sendiri. Hanya saja letak kekurangan yang dilakukan peneliti dalam hal ini adalah dia malah menggunakan kitab tafsir at-Thabari versi terjemahan sebagai sumber data primer dalam penelitiannya, dengan tanpa langsung merujuk pada kitab asli yang berbahasa Arab.

 

Di sinilah letak persoalan itu mencuat. Pada saat sidang munaqasyah berlangsung, ditemukan banyak kesalahan penerjemahan dari kitab tafsir aslinya dan penerjemahan itu menghantarkan pada kesalah-pahaman terhadap si penafsir.

 

Salah satu contoh, di antaranya saat menerjemahkan penafsiran QS. Al-Maidah: 57 berikut:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (57)

 

Dalam menafsirkan ayat ini, at-Thabari menjelaskan:

 

لا تتخذوهم، أيها المؤمنون، أنصارًا أو إخوانًا أو حُلفاء،

 

Wahai orang-orang mukmin, jangan engkau jadikan mereka (orang-orang kafir itu) sebagai penolong, saudara dan sekutu/teman setia.

 

Abu Jakfar at-Thabari menafsirkan kata أولياء   pada ayat di atas sebagai penolong, saudara dan sekutu/teman setia (أنصار، إخوانا، حلفاء) bukan sebagai pemimpin. Celakanya, dalam terjemahan yang dijadikan sebagai sumber data primer tersebut, kata حلفاء pada tafsir itu diterjemahkan sebagai “pemimpin”.  Yang memang secara leksikal, pelafalannya berdekatan dengan kata خلفاء bentuk jamak dari خليفة yang berarti pemimpin. Hanya berbeda titik saja antara huruf Ha` dan Kha`.

 

Jadilah si mahasiswa tadi juga menukil kesalahan dari si penerjemah, dan pada akhir kesimpulannya menegaskan bahwa at-Thabary dalam beberapa ayat al-Qur`an menafsirkan kata أولياء dengan makna pemimpin. Sebuah kesimpulan yang jauh dari kebenaran yang sesungguhnya, sebab jika ditelusuri, sangat sulit ditemui, atau bahkan tidak ditemukan penafsiran at-Thabari yang mengartikan أولياء sebagai خلفاء  atau pemimpin. Waktu itu saya katakan: “anda ini pelaku sekaligus korban dalam proses pewarisan kesalahan, atau kesesatan yang menyesatkan (dhollun mudhillun)”.

 

Saya berasumsi, jangan-jangan, munculnya informasi hoax di berbagai media sosial sejak beberapa tahun yang lalu, tentang beredarnya al-Qur`an palsu, yang berisikan penerjemahan kata أولياء pada QS.al-Maidah 51 dan 57 diterjemahkan dengan teman setia, memiliki keterkaitan dan merupakan imbas dari kesalahan penerjemahan seperti yang terdapat pada kitab tafsir tersebut. Jika betul demikian, maka inilah yang disebut sebagai SALAH PAHAM YANG MENGAKIBTAKAN MUNCULNYA PEMAHAMAN YANG SALAH.

 

Hal yang kurang lebih sama saya temui kembali pada hari Jum`at 3 hari yang lalu. Saat sedang asyik menyimak khutbah Jum`at, saya sedikit terusik tatkala khatib menguraikan fadilah membaca al-Qur`an pada bulan Ramadhan, sembari mensitir hadis dari Ibnu Abbas yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari:

 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

 

Dengan penuh percaya diri sang khatib mengartikan potongan hadis:

 

فَلَرَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

“Pada proses Tadarus (bersama malaikat Jibril setiap malam pada bulan Ramadhan) baginda nabi sangat cepat, dan cepat paham melebihi kilat yang menyambar”.

 

Kata أجود بالخير   yang berarti sangat dermawan dengan kebaikan dimaknai dengan sangat cepat, dan cepat paham, sementara الريح المرسلة yang bermakna angin berhembus,  malah diterjemahkan sebagai kilat yang menyambar.

 

Kala itu saya sempat berfikir, jika kesalahan dalam memahami hadis ini dibiarkan, bisa jadi akan menimbulkan pemahaman yang salah dan praktik-praktik keliru dalam hal membaca al-Qur`an. Boleh jadi, pemahan yang salah ini akan dijadikan sebagai legitimasi untuk membaca al-Qur`an (tadãrus) super cepat laksana kilat.

 

Dan secara kebetulan, di wilayah tersebut kerap kali ditemui, beberapa orang yang membaca Alquran begitu cepat, nyaris tanpa suara laksana angin berhembus. Cukup mulut komat kamit tanpa ada suara yang terdengar. 1 Juz al-Qur`an bisa dibaca hanya dalam hitungan 5 menit atau bahkan kurang dari itu.

 

Jika betul demikian, maka lagi-lagi ini menjadi bukti nyata, bahwa PEMAHAMAN YANG SALAH, DAPAT DITIMBULKAN OLEH ADANYA KESALAH-PAHAMAN DAN KARENA TIDAK PAHAM-PAHAM. *

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed