by

Pahrian Siregar, MR ‘LORD of THE RING’ yang SELALU GELISAH (Catatan Muhlis Suhaeri)

-Berita-216 views

IKBM MEDIA, Pontianak – Kepergian pakar orangutan Tapanuli dan pegiat kemanusian, Pahrian Siregar banyak menyisakan, ilmu, pengalaman, pengetahuan, kisah dan kenangan yang melekat dibenak sahabat-sahabatnya.

Mengenang sekaligus menghormati beliau, kami IKBM Media menyajikan serial khusus untuk mendiang Almarhum Pahrian Siregar.

Berikut, IKBM Media melampirkan curhatan hati Aris Juhari, salah satu anak Pontianak yang pernah bersama dalam salah satu program bersama Pahrian Siregar.

 

MR ‘LORD of THE RING’ yang SELALU GELISAH

Catatan Muhlis Suhaeri

Untuk Sobatku : Pahrian Siregar

 

SETAHUN ini terlalu banyak berita tentang kematian. Pandemi membuat manusia tercerabut. Kematian tersiar setiap hari. Angka kematian tak lagi membuat orang mawas diri. Mereka seolah mulai kebas. Mungkin juga aku.

Tapi, berita tentang dirimu malam ini, sungguh terasa menyentak. Jempol serasa teraliri listrik. Merambat cepat. Membuat kulit dan syaraf terasa tercerabut. Kusut.

Kita memang tak lama berteman. Tapi, nilai persahabatan itu, sungguh luar biasa. Aku menikmati setiap pertemuan atau perbincangan. Bahkan, sekedar obrolan basa-basi sekalipun melalui telepon. Mungkin, karena kita terlahir sebagai manusia yang sama-sama selalu gelisah, dengan apa yang terjadi di sekitar kita.

Program USAID Kinerja mempertemukan kita. Itu sekitar tahun 2013. Kamu jadi pemimpin project yang didanai pemerintah Amerika Serikat tersebut. Aku jadi Konsultan Media.

Setahun lebih kita bekerja sama. Dari urusan kerjaan itulah, aku mulai mengenal pemikiran dan berbagai analisamu, tentang suatu masalah. Semua itu terkemas dengan dialogis. Tidak menggurui. Sangat logik dan kontekstual.

Sejak pindah dari Jakarta ke Pontianak, 2005, aku seolah tercerabut dari lingkungan dan pergaulan banyak teman. Dinamika dan perkembangan pemikiran, tak lagi terasah. Pekerjaan itu memberikan hal baru.

Suatu ketika, kita berangkat bareng ke Singkawang. Kamu tak pernah tidur. Aku pun demikian. Otak selalu berputar. Ada saja yang dipikirkan. Klop sudah.

Setiap perlintasan. Setiap wilayah. Selalu ada keseruan. Ada perbincangan membedah sejarah, struktur sosial, ekopol, relasi politik para kepala daerah, dan lainnya. Banyak sekali tema kita perbincangkan. Tak pernah habis. Selalu saja ada topik.

Kamu juga cerita, serunya kuliah di kampus IPB. Dinamika dan geliat kampus. Semangat ‘berhijrah’ kian kental di kampus. Perkembangan itu sempat membuat Ayahmu, saat itu menjadi Hakim di Pengadilan Militer Pontianak, memberikan ultimatum.

“Aku kuliahkan kamu tidak untuk bersikap sektarian,” begitu kamu bercerita, tentang sikap orang tuamu.

Semangat terus belajar itu, membuatmu bisa meyelesaikan jenjang pendidikan hingga S-3, Ilmu Lingkungan. Cumlaude pula.

Kegelisahan itu juga kamu tuangkan, dalam berbagai catatan. Seperti, catatan masa kecilmu di Kota Pontianak. Catatan itu terkumpul dalam sebuah buku berjudul “Percak Burok.’

Buku berbentuk PDF itu, kamu bagikan secara gratis.

Catatan itu membuka mata siapa pun yang ingin tahu Kota Pontianak, dari sudut pandang penghuninya. Kisah dinukilkan dalam suatu rangkaian ingatan pengalaman masa kecil. Yang tumbuh bersama dinamika urban di kota yang dihuni.

Ada beragam kisah masa kecil. Kisah itu dituangkan melalui permainan anak-anak, yang tak lagi bisa dimainkan atau ditemui lagi. Pertumbuhan kota mengerus dan mengubah lanskap kota. Juga wilayah yang menautkan memori pada penghuni kota.

Bahkan, ketika penghuni itu telah bermigrasi. Meninggalkan kota, sekian puluh tahun lamanya. Kenangan itu jadi batu pijakan, bagi pertumbuhan dan aktivitas penghuninya.

Cerita tentang tangsi militer. Ikan gendang gendis. Permainan dakocan, dan lain. Dan lain, seolah kembali bersliweran. Mengingatkanku, betapa kesempatan bermain masa kecil, menumbuhkan jiwa-jiwa merdeka dan pencarian.

Ada banyak komunitas kamu buat. Tak hanya di Pontianak, juga di Sumatera Utara. Tempat yang menjadi asal orang tuamu. Banyak orang kamu dampingi. Kamu kasih kesempatan mereka mengerjakan sesuatu. Aku yakin, mereka akan mengenangmu dengan takzim.

Kegelisahan itu pula yang membuatmu, tak betah berlama-lama pada suatu pekerjaan atau tempat. Selalu cari tantangan. Sesuatu yang baru. Itu pula yang membuatku kuatir. Engkau terlalu memacu fisik dan pikiranmu.

Apalagi ketika membaca statusmu di Facebook pada 25 Agustus 2020. Aku benar-benar miris. Statusmu itu berkisah, bonus 11 tahun kehidupan.

Dalam kenangan itu kamu bercerita, ketika di Bedugul, Bali, 25 Agustus 2009. Kamu terkena serangan jantung. Itu serangan kedua. Sebelumnya, kamu pernah terkena serangan. Yang membuat jantungmu harus diberi tiga cincin.

Kamu berpacu dengan waktu, golden time. Rumah Sakit Sanglah, Denpasar, jadi tujuan. Agar, kamu bisa ditangani dengan kateter dan baloning. Sayangnya, tak ada dokter bisa melakukan, ketika itu.

 

BACA JUGA : Pahrian Siregar, Mengajari Bukan Membodohi (Catatan Aris Juhari)

Setelah tiga hari pemulihan, kamu segera balik ke Jakarta. Pihak Rumah Sakit Sanglah minta kamu menandatangani surat. Isinya, rumah sakit tak bertanggung jawab, jika terjadi sesuatu di perjalanan. Tiba di Jakarta, kamu langsung masuk ke RS Harapan Kita. Itu rumah sakit khusus penyakit jantung. Tindak lanjut penanganan segera dilakukan.

Jantungmu dipasang lagi 3 ring. Praktis, ada 6 ring di jantungmu. Tidak ada tambahan ring lagi. Karenanya, kamu harus berhati-hati. Tidak boleh ada serangan ketiga.

Dan, malam ini, serangan itu, membuatmu benar-benar purna.

Padahal, kemarin siang kita masih berbincang melalui telepon. Cukup lama. Aku ingin diskusikan satu hal. Dan, seperti biasa, kamu selalu menyambutnya dengan antusias.

Kematian selalu saja memberikan daya kejut. Sebesar apa pun orang mempersiapkan diri untuk menyambutnya.

Selamat jalan Master Lord of The Ring.  *

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed