by

GERTAK Mengutuk Pelemahan KPK, Pemecatan Pegawai KPK, dan Aksi Teror Terhadap Rakyat

-Berita-78 views
*Gerakan Rakyat Anti-Korupsi (GERTAK) Kalimantan Barat
IKBM MEDIA, Pontianak – Isu pelemahan KPK kembali menjadi wacana publik. Merespon isu tersebut, kelompok masyarakat sipil merasa perlu bersikap dengan menyampaikan penolakan atas keputusan tersebut. Demikian halnya di Pontianak, Gerakan Rakyat Anti-Korupsi (Gertak) Kalimantan Barat, yang terdiri atas berbagai elemen masyarakat sipil, merespon dengan melakukan aksi mimbar bebas di muka umum yang dilaksanakan pada Kamis (3/6/2021) kemudian dilanjutkan diskusi dan pemutaran film “The End Game”: Ronde Terakhir Melawan Korupsi yang diproduksi Watchdoc, Sabtu (5/6/2021) malam.
Dalam proses mengungkapkan pendapat, yang secara tegas dilindungi oleh konstitusi di Indonesia, ternyata pihak tertentu bereaksi dengan melakukan upaya peretasan, food bombing, penyebaran data pribadi (doxing), hingga teror digital berupa telepon (robocall) dari berbagai nomor tidak dikenal kepada sejumlah rekan dalam barisan Gertak.
Setidaknya, sejak Kamis (3/6/2021) terdapat 5 orang anggota Gertak yang mengalami upaya hina tersebut, yang masih berlangsung bahkan hingga siaran pers ini disebarkan.
Sri Haryanti, anggota Gertak, menceritakan kronologis. “Di tengah aksi yang kami lakukan, seorang rekan yang juga narahubung pada acara nonton bareng, dikagetkan dengan adanya peretasan terhadap akun aplikasi pemesanan online,” katanya.
Menurut Anti, panggilan akrabnya, upaya peretasan atas nama rekannya itu menjurus pada tindakan “pesanan palsu” berupa 4 pesanan makanan secara berturut-turut (food bombing) melalui satu layanan aplikasi. Rekan Anti terpaksa membayar ratusan ribu rupiah “pesanan palsu” makanan tersebut.
Tak hanya itu, berdasarkan rekaman data layanan aplikasi tersebut, tercatat rekan Anti telah melakukan 1 pesanan angkutan online, namun kemudian dibatalkan oleh pengemudi. Padahal, rekan Anti tidak pernah melakukan pemesanan makanan maupun angkutan online. Bahkan aplikasi tersebut sudah tidak digunakan dan dihapus dari gawai rekannya sejak 2020.
Setelah aksi, Anti dan rekan-rekannya mencoba menelusuri bahwa akun aplikasi surel dan layanan daring satu rekan itu telah diretas. Tidak sampai di situ, pada malam hari, sekitar pukul 19.54 WIB rekan Anti itu menghadapi upaya peretasan terhadap akun aplikasi pesan pribadinya (WhatsApp).
Upaya peretasan juga dialami oleh dua orang rekan Anti yang lain. Mereka mendapati permintaan one time password (OTP) melalui pesan singkat (SMS) dan telepon, sebagai indikasi upaya mengambil alih akun. Hal ini terjadi secara berulang kali hingga Sabtu (5/6/2021). Upaya lain yang dilakukan peneror adalah menghubungi melalui panggilan telepon dan pesan singkat (SMS) dengan nomor tidak dikenal.
Anti dan seorang dosen juga mengalami upaya peretasan. “Saya adalah pembicara di diskusi Nobar. Satu pembicara lain adalah akademisi dari IAIN Pontianak. Kami ditelepon puluhan kali oleh nomor tidak dikenal,” katanya. Berdasarkan penelusuran, semua aksi teror itu menggunakan nomor yang sama, dan upaya tersebut masih terus berlangsung sampai rilis ini disampaikan.
Anti beserta keempat rekannya yang menjadi sasaran upaya peretasan, memang terpublikasi dalam selebaran digital pemutaran film. Dari tiga orang yang mendapat upaya peretasan akun WhatsApp, dua di antaranya merupakan narahubung, dan satu orang adalah moderator acara.
Apabila dicermati, sebenarnya hanya dua orang narahubung yang tertera nomor kontak dalam selebaran. Sedangkan moderator dan kedua pembicara tidak dicantumkan nomor kontak. Anti menyimpulkan, artinya selain upaya peretasan dan teror, terdapat tindakan penyebaran data informasi personal (doxing) yang juga dilakukan, yaitu terhadap moderator acara dan kedua pembicara.
Menurut Anti, teror serupa juga sempat dialami oleh rekan-rekan dari Indonesia Corruption Watch (ICW) beberapa waktu lalu. Ternyata upaya peretasan tersebut terjadi bukan hanya di Jakarta, melainkan di Pontianak saat melangsungkan diskusi dan aksi mengenai tes wawasan kebangsaan (TWK) pegawai KPK. Anti menyatakan, rangkaian teror tersebut menguatkan dugaan ada yang merasa terganggu terhadap advokasi dan kampanye isu TWK.
“Kami melihat adanya relasi yang kuat antara pelemahan KPK, dengan pengkerdilan ruang bagi masyarakat sipil untuk menyampaikan suara dan ekspresi keresahan, atas serangkaian upaya pelemahan KPK. Puncak pelemahan KPK adalah pemecatan 75 orang pegawai KPK, yang dianggap tidak memiliki wawasan kebangsaan,” papar Anti.
Dia menilai kejadian ini merupakan bentuk kemunduran demokrasi di Indonesia. Anti mengingatkan bahwa demokrasi menjamin kebebasan berekspresi, keamanan data pribadi, dan perlindungan terhadap HAM.
Anti menegaskan bahwa rangkaian upaya peretasan, teror, dan penyebaran data informasi tersebut sama sekali tidak akan menyurutkan upaya Gertak untuk menyampaikan informasi kepada publik. “Sikap dan aksi kami merupakan bentuk kecintaan kami terhadap negeri ini, dan penghormatan kami terhadap Pancasila. Kebenaran akan tetap menemukan jalannya.”
Terkait dengan peristiwa ini, Anti menyatakan Gertak Kalimantan Barat mengutuk keras segala bentuk pembungkaman, pengkerdilan yang dilakukan oleh pihak tidak bertanggung jawab terhadap rakyat dan telah memukul mundur demokrasi. “Maka dengan ini kami juga berharap pihak berwenang, dapat mengusut tuntas berbagai upaya teror yang mengganggu, merugikan, serta mengancam kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum yang jelas telah dijamin oleh konstitusi,” kata Anti. (*)
GERAKAN RAKYAT ANTI-KORUPSI (GERTAK) KALIMANTAN BARAT
(Aksi Kamisan Pontianak, Lembaga Gemawan, Suar Asa Khatulistiwa (SAKA), SADAP, Jaringan Gusdurian Pontianak, SEJUK Kalbar, GMNI, Dema IAIN, BEM Sylva PC Untan, LPM Teropong Kampus Polnep, Solmadapar, Pontianak One Piece Family, HMI Pontianak)
Sumber : Rilis Gertak

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed